I Hate Malaysia!

Sebenarnya ketika semua orang ramai memperbincangkan kasus ini, saya masih malas mengeluarkan komentar dan coba bersikap netral. Tapi perasaan Marah saya keluar ketika lagu Indonesia Raya yang merupakan jati diri bangsa ini diplesetkan menjadi bahasa kampungan oleh orang – orang yang mengaku berbudaya ini, mungkin ini  yang namanya nasionalisme, tapi  Saya sedang tidak ingin membahas tentang Nasionalisme, karena saya sendiri tidak begitu faham apa itu nasionalisme.

Yang saya ingin bahas disini adalah ‘Siapa itu Malaysia?’. Malaysia berdiri pada 31 Agustus 1957 setelah ‘diberikan’ kemerdekaan oleh inggris. Ketika menerima kemerdekaan tersebut Malaysia bahkan tidak memiliki lagu kebangsaan. Dengan cueknya mereka mengambil lagu kroncong Indonesia yang berjudul “Stamboel terang boelan” sebagai lagu kebangsaan mereka dan mengubah liriknya.

Ketika menerima kemerdekaan dari Inggris pada tanggal 31 Agustus 1957, negeri itu bahkan tidak mempunyai lagu kebangsaan. Dengan gagah berani dan percaya dirinya, mereka mencomot lagu keroncong Indonesia yang berjudul “ Stamboel Terang Boelan “, sebagai lagu kebangsaan dan mengganti liriknya. Presiden Soekarno dengan kesantunan seorang pemimpin besar negara tetangga, segera mengumumkan lagu idola buaya keroncong itu tidak boleh lagi dinyanyikan sembarangan di seantero Nusantara ( Tempo Edisi 15-21 Oktober 2007 ).

Setelah itu awal tahun 70-an, Indonesia dan Malaysia membentuk suatu hubungan baru. Layaknya seorang kakak yang sayang kepada adiknya, Indonesia mengirimkan tenaga pengajar seperti guru, dosen, dll guna membantu sang adik tersayangnya membangun infrastruktur pendidikan, mengingat Malaysia hanya mempunyai satu universitas pada saat itu. Memberikan buku – buku karya  sastrawan Indonesia sebagai bacaan wajib sekolah disana. Pertamina mengajarkan mereka bagaimana mengolah minyak, sampai UU Migas Indonesia pun dijiplak mentah – mentah oleh sang adik, UU Perfilman Nasional juga dijiplaknya. Tidak segan – segan Indonesia memperbolehkan Malaysia mengirim anak – anak bangsanya belajar di perguruan tinggi seperti UI, UGM, ITB, UNPAD, dll. Kini sang Adik sudah berkembang pesat, kita lihat orang- orang Indonesia banyak menuntut ilmu di Malaysia. Pertamina sudah jauh tertinggal dari petronas. Sang adik sudah berubah, kini mereka hanya bisa melihat kita sebagai negara pengekspor pembantu, TKI, buruh.

Buka Mata kalian orang – orang Malaysia? siapa kalian? Kami sebagai kakak sebenarnya merasa bangga ketika adiknya meraik sukses. Tetapi ketika kasus – kasus yang belakangan ini terjadi, sampai seenaknya saja kalian memplesetkan lagu Nasional kami, maka hubungan adik – kakak ini harus segera diakhiri. Lagu itu lahir dari sebuah perjuangan bangsa Indonesia, dari darah! Anda mungkin tidak akan bisa merasakan sesuatu yang dihasilkan dari sebuah perjuangan, ya, memegang senjata saja kalian tidak pernah. Tidak puaskah kalian dengan apa yang sudah selama ini kami berikan? Jangan sampai nanti Merah – Putih juga anda klaim sebagai bendera Malaysia!
Sambil mengutip pidato bung karno di salah satu blog:

..” dilaporkan oleh radio Kuala Lumpur, woh Republik Indonesia,,.. Presiden Soekarno sudah tak di dengar lagi,..apa benar demikian saudara saudara ? Saya baru pulang dari Africa,..saya bisa berkata kepada saudara saudara,..belum pernah ! nama Republik Indonesia begitu tinggi seperti mercu suar bagi negara negara new emerging forces. Indonesia memberikan konsepsi, Panca Sila, berdikari…Justru di Afrika ide berdikari, woodohh dikagumi saudara saudara..Perkataan presiden Soekarno bahwa the crowning of independence is not membership of united nations, but the ability to stand on our own feet, mereka rakyat Africa dan orang mesir berkata..its rang through Africa..artinya menggelegar seperti beledek mangampar ampar..!, saya tantang Kuala Lumpur, mana suaramu !..Kalau boleh saya katakan Malaysia adalah negara tanpa konsepsi ! dalam hal pertahanan berulang kali , Hei Inggris tolonglah kami, Hei Australi tolonglah kami, Hei New Zealand kalau kau betul betul anggota Commonwealth, tolonglah kepada kami..tolong, tolong, mana berdikarinya saudara saudara ? sama sekali tidak !”


  1. iyah mas gal.
    me too.
    i hate malaysia.
    lupa diri.
    ga tau diri.
    kacang lupa kulitnya.
    ga punya kreatifitas.
    huh.

    • aiko
    • September 16th, 2009

    hi.
    i’m Malaysian
    just wanna ask
    i’m Malaysian while my father is Indonesian n my mother is Malaysian, will you hate me too?
    about malaysia being independence given by British, for your info which i think you should read more, our ancestors did sacrifice their blood and flesh to free Tanah Melayu.
    about Terang Bulan and Negaraku song maybe you should do some research first.
    about culture, i don’t wanna explain too long. just take example of mine being a daughter of malaysian n indonesian, of course i inherit both culture. for ur info, my grandfather of my father’s side married four wives n one of them is malaysian. n i’m sure not only my grandfather n my dad did so. so then just imagine how close we are related.
    and for more, don’t accept what others thought so easily and don’t let emotion control ur thinking. try to perceive from another dimension, you might see things differently..

    peace from me..

    • dengan hormat mba/mas aiko, saya balas dengan bahasa indonesia, bukan saya tidak bisa bahasa inggris tapi anda bisa membaca tulisan saya jadi saya anggap anda mengerti dengan bahasa indonesia.
      Saya membuat tulisan ini hanya merupakan bentuk kekecewaan saya terhadap Negara anda, dan saya sudah melakukan research di berbagai sumber. Karena saya tidak mau pembaca saya merasa tertipu.
      Untuk masalah pernikahan antara Indonesia-Malaysia, tolong jangan disangkut pautkan dengan kebudayaan, anda bisa saja menikah dengan orang Indonesia, tapi bukan berarti kebudayaan kami juga akan ikut anda bawa. Karena kebudayaan itu punya asal usul dan merupakan ciri khas suatu bangsa.
      Saya akan lebih menghargai kebudayaan anda apabila anda juga menghargai kebudayaan kami…:)

      cheers…

        • aiko
        • October 1st, 2009

        hi.
        tentang kebudayaan, di dalam konteks ini, bukanlah saya yang menikah dengan Indonesian. tetapi adalah ibu saya. saya hanyalah anak hasil pernikahan kedua ibu bapa saya. jadi, bukankah saya juga layak mengikut dan belajar apa yang bapa dan ibu saya amalkan? Jika bapa saya yang merupakan campuran batak dan minang gemar makan rendang, adakah saya dilarang makan rendang hanya kerana ibu saya seorang Malaysian. Jika bapa saya mahu makan rendang, adakah dia harus masak sendiri supaya ilmu bagaimana memasak rendang tidak dipelajari oleh ibu saya yang merupakan seorang Malaysian? Berdosakah saya sekiranya saya lebih suka makan rendang (masakan pedas) berbanding masakan melayu Terengganu (ibu saya) yang lebih manis? (makanan diguna sebagai contoh kerana lebih mudah)
        anda mengatakan “kebudayaan itu punya asal usul dan merupakan ciri khas suatu bangsa”. Ya saya setuju. Tetapi persoalan saya, apakah itu bangsa? Pada hemat saya, bangsa tidak akan berubah pada setiap keturunan. Kami di Malaysia, tidak mengakui kami bangsa malaysia. Jika kami mengatakan we are malaysian, malaysian di sini adalah citizenship, di mana kami lahir dan menetap di Malaysia. Tetapi kami masih merujuk diri kami sebagai Melayu, Cina, atau India. walau di mana kami berada, kami masih Melayu, Cina atau India. walau kami bernikah dengan bangsa lain sekalipun, anak itu masih punya darah Melayu, Cina atau India. dan kebudayaan itu milik bangsa – jadi mereka masih layak mengamalkan apa yang diamalkan oleh nenek moyang mereka.
        Semua Melayu Malaysia menganggap Indonesian adalah saudara kami, tetapi tidak di Indonesia. Masalah ini berpunca dari pengertian Melayu itu sendiri. Bagi kami, Melayu adalah bangsa yang melangkaui sempadan negara dan etnik. kami malah menganggap sebahagian orang Filipina adalah Melayu. Tapi berbeza dengan anda di Indonesia, Melayu adalah etnik. sebagai contoh di Kepulauan Riau. Jadi, kerana itu, anda menganggap kami mengaku-ngaku budaya anda padahal yang mengamalkan budaya anda di Malaysia adalah juga Jawa dan minang yang kami akui sebagai bangsa melayu.
        tentang pernikahan antara negara, saya melihat pernikahan bukan hanya berlaku selepas wujudnya Malaysia dan Indonesia malah sebelum itu. Sebelum kedua tanah ini punya nama, tidak mustahil pernikahan antara penduduk dua tanah ini sudah berlaku. Jadi bukankah itu bermakna kita sebagai keturunan mereka ini sebenarnya adalah serupa?
        Sekiranya Malaysia tidak terbentuk, adakah anda rasakan masalah ini akan berlaku?
        maaf kerana komen yang terlalu panjang. ini kerana saya merasakan hak saya diabaikan.

  2. To aiko :
    Perlu anda ketahui, ayah saya adalah jawa dan ibu saya adalah melayu asli. Saya tidak pernah mengaku bahwa saya jawa atau saya orang melayu. Saya orang Indonesia. Disini kita tidak membicarakan suatu etnik, saya bicara tentang negara. Anda boleh saja mengagumi khas2 asli indonesia, seperti rendang, reog, batik, dan lebih saya hargai apabila anda berani memakai koteka. Terus terang saya bangga kreativitas negara kami disukai oleh negara lain. Tapi bukan berarti bisa seenaknya mengklaim atau bahkan mematenkan sesuatu yg berasal dari negara kami dan membuatnya menjadi iklan pariwisata. Dan itu yang membuat saya kecewa..

      • aiko
      • October 3rd, 2009

      Jika budaya dbataskan oleh kewarganegaraan atau negara, adakah ini bermaksud orang indonesia yang berhijrah ke malaysia tidak boleh mengamalkan apa yang yang diwariskan turun temurun oleh nenek moyangnya.

      Apakah yang anda maksudkan dengan klaim dan paten? adakah memang terdapat bukti malaysia mengklaim dan mematen sesuatu budaya?

      anda mengatakan: “Saya tidak pernah mengaku bahwa saya jawa atau saya orang melayu. Saya orang Indonesia” – Ya, di sinilah permasalahan bermula. Pada anda Melayu cuma satu etnik. tapi pada saya Melayu adalah bangsa. Sebagai info, Malaysian amat mementingkan bangsa (Melayu, Cina atau india) berbeza dengan Indonesian yang juga memntingkan bangsa (bangsa indonesia – konsep negarabangsa). Anda harus faham pengertian Melayu di sini. konsep bangsa itu sendiri sudah berbeza. Adakah anda jelas tentang perbezaan ini?.
      kerana itu di komen pertama, saya katakan: “try to perceive from another dimension”- di sini saya sarankan cuba lihat pengertian melayu atau bangsa dari kaca mata orang Malaysia.

      Jika malaysia mempromosi budaya, kami tidak katakan itu budaya Malaysia. Tetapi budaya Melayu, Cina atau India. kerana itu, secara kumulatif, kami mengatakan Malaysia negara majmuk kerana kami masih mengakui negara kami terdiri daripada penduduk yang tanah asalnya pelbagai. contohnya rendang. kami tidak katakan ia milik malaysia. tapi kami katakan rendang minang. tidak perlu lagi kami definisikan dari mana datangnya minang. semua maklum minang asalnya indonesia. dan tedapat keturunan minang di Malaysia.

      tentang kreativiti, budaya bukan boleh dicipta hanya pada satu malam. ianya dibawa turun-temurun oleh sesuatu masyarakat. Malaysia terbentuk hasil campuran pelbagai suku kaum/masyarakat yang setiap satunya membawa kebudayaan masing-masing. Maka anda tidak boleh katakan kami meniru kalian.

      Pada saya, Indonesia dan Malaysia hanyalah nama. padahal sebahagian besar penduduknya adalah sama.

      Saya berharap komen saya tidak mengganggu anda. ini kerana saya lebih senang berdiskusi dari marah-marah. Anda tahu, sekiranya saya tidak mencari, tidak membaca dan tidak bertanya pada ayah dan kakak saudara saya tentang hal ini. sungguh saya tidak akan tahu, apa yang membezakan kita. dan mungkin saya turut bercakaran dalam hal ini.

      • Apakah yang anda maksudkan dengan klaim dan paten? adakah memang terdapat bukti malaysia mengklaim dan mematen sesuatu budaya? reog, wayang, keris, dll? coba deh browsing…..

        Jika malaysia mempromosi budaya, kami tidak katakan itu budaya Malaysia. Tetapi budaya Melayu, Cina atau India. ya, karena itu memang bukan budaya anda… Tapi bagaimana perasaan kami orang Indonesia sebagai pemilik budaya tersebut?

        Sudahlah aiko, saya tidak meributkan budaya dalam tulisan saya. Saya hanya tidak suka sebagian oknum di negara anda mempermainkan lagu kebangsaan negara saya. Tapi saya berterima kasih pada anda, karena komentar anda memacu saya untuk mencari lagi wawasan2 yang belum saya ketahui, dan itu malah membuka mata saya tentang kekurangan2 negara anda.

      • aiko
      • October 3rd, 2009

      saya baru bertanyakan ayah saya apakah itu koteka. disebabkan saya adalah wanita, tidak mungkin saya boleh memakainya. awak mungkin boleh

    • aiko
    • October 13th, 2009

    yes. it seems we agree to disagree.
    my friend, who is Javanese said, it’s better if we worry about religion more than this worldly life which it reflects on how close minded and racist people can be.
    yes, you voice your anger when people infringes on your properties, when people mock your pride, but you never look back on what your people has done maybe like burn other country’s flag, change the name of other country, change the lyrics of other national anthem.. but do i ever say i hate indonesia? never because i know those were done by uneducated and jobless persons. (fact from cousin in pekan baru)
    you keep focusing on the present and you deny the truth which happened decades and centuries ago
    to me it seems you still cannot differ malay race and malay ethnic, but you seems you never care
    yes i admit my country’s still lacking everywhere, well which country is perfect? but it seems in ur eyes we are sinful to never forget from where we came from.
    however tq again to respond.

    • bocah
    • December 21st, 2009

    buat aiko………..
    simpelnya gini deh,,,kalo ada kebudayaan ASLI malaysia tapi diambil sama INDONESIA dan dianggap itu adalah kebudayaan ASLI INDONESIA,,kira-kira anda bisa terima???

  3. ASLI..
    apa sih itu ASLI?
    gmn bs tau aslinya dr mana?
    Melainkan anda mmg ada di situ, pada waktu itu, melihat ia wujud buat kali pertama, yaa, bisa kamu buktikan ASLInya.
    Tapi kalau kamu tidak melihat dan hanya mendengar2 dr org2 dan pengetahuan umum yg tidak jelas dr mana asalnya, kita tidak bisa bilang ASLInya dari siapa atau di mana.
    Malaysia merupakan negara yg agak muda dibanding Indonesia. Mungkin saja sebagian dr penduduk Malaysia punya darah Indonesia. Maka tidak aneh byk sekali budaya dan adat Malaysia serupa dengan Indonesia. Mungkin saja semuanya berasal dr Indonesia. Tapi sebuah negara berkembang, berubah dan berevolusi seiring waktu.
    Adat dan budaya yg dibawa dr Indonesia lema kelamaan bercamour dengan budaya Cina, India, barat, dan akhirnya menjadi seperti sekarang. Kalau kalian marah dengan apa yang kami raikan sebagai budaya kami sekarang, marahlah dgn org yg berhijrah ke Tanah Melayu ratusan tahun dulu. Kami tidak mencuri, tp semuanya dibawa ke sini dan diamalkan seiring adaptasi dengan tempat yg baru.
    Saya faham kalau kalian merasa dirampok, dan merasa org Malaysia itu tidak kreatif, terserah.
    Tapi haruskah kalian marah2 dan berdemo sehingga membakar bendera dan mengganggu ketenangan hubungan dua negara?
    Malah yg pertama sekali memicu kejadian ini adalah program di Discovery Channel yg dibawa org asing yg tidak tahu benar asal usulnya budaya tersebut. Kami tidak pernah mengatakan itu milik kami, kami cuma mengamalkan dan bangga dengan apa yg kami bawa. Literally meaning, kami bangga dengan nenek moyang kami yaitu Indonesia.
    Jadi adakah kami, pewaris budaya zaman-berzaman, salah karena mengamalkan apa yg kami tahu? Makan apa yang nenek moyang kami makan? Menyanyikan apa yang orang tua kami nyanyikan? Adakah ia berdosa menurut agama?

    Sy senang berdiskusi, namun jgnlah sampai keluar kata caci maki dan suara memburuk2kan org lain. Dari judul anda saja menunjukkan tujuan anda menulis entry ini.

    Maaf jika menyinggung perasaan anda dan rakyat Indonesia.

    Saya bangga pernah menjejak bumi asal nenek moyang saya ini.

    • arthur
    • September 8th, 2010

    Aiko :

    Saya membaca tulisan anda tentang pembelaan diri anda.
    Negara anda terlihat tersinggung dengan pembakaran bendera dan pelemparan kotoran ke Kedutaan Malaysia.

    Tetapi kami orang Indonesia lebih tersinggung lagi saat penangkapan pegawai kelautan kami yg diperlakukan layaknya pencuri ayam. Itu menyinggung hati kami rakyat Indonesia.

    Juga tentara malaysia yang sering memancing Tentara Indonesia dengan memasuki perairan Indonesia. Itu juga menyinggung hati kami rakyat Indonesia.

    Lalu klaim beberapa budaya kami menjadi promosi pariwisata kalian. Itu juga menyinggung hati kami rakyat Indonesia.

    Selain itu para TKI diperlakukan semena mena, sampai banyak yang mati. Ada yang tidak dibayar gajinya bertahun2. Itu juga menyinggung hati kami rakyat Indonesia.

    So pembakaran bedera malaysia dan pelemparan kotoran ke Kedutaan Kalaian itu masih jauh dari sakit hati kami rakyat Indonesia di banding sakit hati kalian.

    Coba kalau saat penangkapan petugas Kelautan Indonesia kalian malaysia langsung meminta maaf, maka tidak akan terjadi pembakaran apalagi pelemparan kotoran.

    Jadi aiko, seperti ada pepatah:
    Semut diseberang lautan terlihat tetapi gajah dipelupuk mata tidak terlihat.

    Cobalah kita saling intropeksi diri.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: