Ngabuburit

Sore hari yang sendu, hari ini langit tidak terlalu menampakkan keceriaannya. Aku coba menyapu halaman yang sesekali terganggu angin, daun berserakan, puntung rokok, dan debu jalanan sudah menjadi bagian yang wajar di halaman. Sambil sesekali bersenda gurau dengan tetangga, basa basi politik yang sedang menghangat mendekati pemilu. Mendengar tawa pemulung-pemulung kecil dipinggir jalan, tawa terpolos, terjujur, tanpa kebohongan, adalah suara tawa orang-orang kecil.
Hujan turun, seperti yang sudah direncanakan langit dari siang hari. Buat sebagian orang ini berkah, tapi tidak untuk sebagian pedagang kecil yang terpaksa berteduh. Kami berkumpul berteduh dibawah kanopi halaman, sambil berharap sedan mewah berhenti untuk berbelanja. Ratusan motor lalu lalang tiada satupun yang terpaku. sayup-sayup terdengar lagu islami diiringi musik betawi. Beberapa wanita abg melintas dengan celana seadanya, sedikit mengusik imanku yang sedang berpuasa. “Sabar, adzan maghrib sebentar lagi”, gumamku dalam hati. Sungguh sore yang indah. Kalau ada yang tanya profesiku saat ini, jawab saja pedagang siomay…:)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: